Cerita inspirasi (orang lain)

Posted by: mentari.purwakasiwi10  :  Category: Uncategorized

Nama : Mentari Purwakasiwi

NRP : E14100120

Laskar : 11

Randa hanyalah seonggok manusia mungil. Anak belia kelas 6 SD, tapi harus mengenyam pedihnya kehidupan. Entahlah, mungkin agak kurang baik jika kusebut demikian, tapi inilah kenyataan. Randa anak ke 4 dari 6 bersaudara. Ayahnya hanya sebagai sopir metromini 62 jurusan Pasar Minggu – Manggarai. Ibunya sudah hampir setahun ini berpulang ke rahmat Allah. Randa keras, dibesarkan dengan kekerasan, tapi ia memiliki hati. Aku mengenalnya pada suatu siang di perjalanan dari Pasar Minggu menuju SMPN 182. Aku berusaha mengejar metromini yang keneknya tak lain adalah dirinya. Saat dia melihatku berlari, kudengar ia setengah teriak “Stop, sewa nih…..ayo Mbak buruan!” demikian teriaknya padaku. Metromini yang kunaiki tak seberapa penumpangnya, tapi satpol pp menyuruhnya segera berlalu karena ada beberapa bus sama yang ingin nge-tem juga disana. Aku memilih duduk di bangku paling belakang, di dekat pintu belakang, di dekat Randa. “Mau pepaya dek?” tanyaku mencoba membuka dialog dengannya. “Mana?” dia menanyakan karena dia belum melihat buah yang kumaksud. Segera saja aku keluarkan satu potong pepaya yang kubeli di pasar minggu yang langsung aku sodorkan padanya. “Ini, lekas makan mumpung masih dingin,” ucapku saat kuberikan pepaya itu padanya. Sambil mengambil pepaya satu lagi, aku makan sendiri. Randa tidak memakannya, tak menggigitnya sama sekali. Dia beranjak ke sebuah bangku yang ada anak kecil melebihinya duduk. Terlihat Randa menawarkan pepaya itu pada anak kecil itu. Anak kecil itu menolak. Randa beranjak menuju sang sopir alias bapaknya sendiri, mencoba menawarkan. Sang bapak seperti menanyakan dengan sedikit membentak. “Dikasih Mbak itu kok,” ucapnya pada sang bapak yang juga sopir. Si bapak menolak. Akhirnya randa kembali ke pintu belakang, mulai dia menggigit sambil sesekali berteriak “MANGGARAI…MANGGARAI…MANGGARAI…”.

Setelah menolehkan muka dariku, Randa terdengar terisak. Sambil menggigit pepaya yang kuberikan, terlihat dia mengusap air mata yang mulai mengalir di pipinya. “Dek…kenapa nangis?” tanyaku sambil mengusap pundaknya, mencoba menenangkan. randa masih malu menjawab, menjauhkan mukanya dariku, dan masih terus mengalir air mata di pipinya. Hingga setelah beberapa lama aku menanyakan terus, sambil mengusap dengan lembut pundaknya, dia mulai berucap sambil sesenggukan,”gocenganku diambil adik”. “Jadi itu adikmu?” jawabku padanya sambil menunjuk pada sang anak kecil yang kumal dan terlihat bandel itu. “Iya, dia bandel banget,” jawabnya. Memang terlihat sekali anak kecil yang kutunjuk itu bandel. Dari tingkahnya saja sudah bisa diterka. Pu’ang, demikian nama adiknya yang ikut beserta di metromini itu, masih kelas 3 SD, tidak naik kelas karena seperti kata Randa ,”bandel, main mulu kerjaannya”. Randa sendiri baru naik kelas ke kelas 6. Sepulang sekolah langsung dipaksa menjadi kenek oleh bapaknya. Saat metromini melaju dengan cepat, Randa menunjukkan pahanya yang terlihat memar, “ini Kak, lihat” ucapnya padaku. Di bangku belakang hanya ada aku seorang. Di depanku ada seorang wanita berjilbab panjang, akhwat sepertinya. Dia hanya terus memeperhatikan sikapku pada Randa, dialog-dialogku, hanya memperhatikan. Saat kutanyakan kenapa pahanya sampai memar-memar seperti itu, dengan pelan ia menjawab ,”dipukul bapak, gak mau ngenek,” ucapnya diiringi dengan derai air mata. “Sabar ya, Dek,” hanya itu yang bisa kuucapkan padanya. “Kalau Randa sabar, Insya Allah semua berbuah pahala. Jangan lupa doakan semoga Bapak jadi santun!” tambahku padanya. Randa anak yang lembut, meski sesekali bapaknya membentak, juga adiknya yang terus usil sepanjang aku di metromini itu. Kulihat ia masih terus sabar. Hanya isak tangis yang sering kusaksikan, yang ia pendam sambil berlalu. “Sabar ya de” ucapku saat dia menceritakan bagaimana Sang Bapak memperlakukannya, juga adiknya yang sering merampas uang yang ia simpan dan sisihkan. “Kalau Randa sabar, insya Allah Randa akan dapat gantinya yang lebih baik dari Allah,” nasihatku padanya saat dia terus mengeluhkan adiknya yang seringkali merampas uang miliknya. Tak terasa aku hampir dekat dengan gang masuk SMP 182. “Nanti di depan kiri ya, Kakak turun,” ucapku lirih pada Randa. Sebelum aku turun dari metromini itu, kurogoh saku celana. Alhamdulillah ada selembaran kertas sepuluh ribuan. “Ini untuk mengganti goceng yang diambil adikmu,” ucapku sambil memberikan uang itu ke genggamannya. Ia masih terus menolak hingga aku hampir turun. “Jangan menolak rezeki!” ucapku sambil memaksa agar dia mau menggenggamnya. “Makasih, Kak,” ucapnya padaku.”Sabar ya, Dek..” itu ucapan terakhirku sebelum akhirnya aku turun dari metromini itu.